logo blog
Blog Sandi Elektronik
Silahkan pastikan untuk melengkapi kunjungan anda dengan melihat : Daftar Isi.
Terima kasih atas kunjungannya dan semoga bermanfaat

Neon 12V

Advertisement

Lampu Neon Dengan Aki 12V

neon 12V

Lampu neon selalu membutuhkan tegangan AC yang cukup tinggi untuk menyalakannya, sehingga lampu neon identik dengan penerangan system AC tegangan tinggi.  Berikut adalah rangkaian elektronik untuk menyalakan sebuah lampu neon TL 10W dengan sumber DC 12V. Rangkaian yang mirip yang pernah populer di majalah Elektron, 08 th 2 – 1978, hanya saja di sini ada beberapa perbedaan, yaitu jumlah gulungan trafo dan penambahan resistor pada emitor transistornya.

skema neon 12V

Rangkaian pada dasarnya adalah sebuah osilator-sinus pada range frekwensi ultrasonik dengan 1 transistor. R1 memberikan tegangan bias untuk transistor T1 yang menentukan titik kerja transistor.  Ketika tegangan supply diberikan transistor mulai menghasilkan ½ belahan gelombang dan diinduksikan melalui gulungan A – B.  Gulungan B – C memungut gelombang yang diinduksikan ini untuk diumpankan ke basis T1 tapi dengan fasa yang berlawanan sebesar 180 derajat (karena arah gulungan berlawanan dengan gulungan A – B).
Gelombang ini di umpankan melalui R1 dan C1.  Bagi gelombang/sinyal AC, C1 hanya mempunyai resistansi yang kecil saja, sedangkan bagi tegangan DC C1 bersifat menyekat.  Dengan adanya C1 transistor lebih mudah untuk start ber-osilasi.  Tegangan DC pada titik C diberikan ke basis T1 sebagai tegangan bias dengan dibatasi oleh nilai hambatan R1 saja.
Gelombang ½ putaran yang diberikan ke basis T1 (ketika mulai start) kemudian dikuat kan oleh transistor dan muncul di kolektornya dengan fasa yang berlawanan, dan seterusnya hingga pada gulungan A - B muncul tegangan bolak-balik/AC.  Tegangan gelombang AC yang dihasilkan pada gulungan A – B juga diinduksikan ke gulungan C - D dan D – E.  Secara keseluruhan, dari A sampai E akan terbit tegangan AC sebesar :

(nA-E / nA-B) x VsA-B

Di mana nA – E = jumlah gulungan dari A ke E, nA – B = jumlah gulungan dari A ke B, VsA – B = besar tegangan gelombang pada gulungan A – B.
Tegangan dari titik A – E ini merupakan tegangan yang akan menyalakan neon.
Tegangan gelombang yang muncul pada gulungan D – E dipungut untuk diberikan ke salah satu heater neon, supaya neon bisa start menyala.

Daftar komponen :
R1 = 1k
R2 = 0,47Ω
C1 = 223
C2 = 47uF/16V
D1 = 1N4002
T1 = C1061/D313

Trf1 adalah trafo kecil berinti ferit “E” yang memang khusus untuk penggunaan pada rangkaian-rangkaian frekwensi tinggi.  Untuk Trf 1 bisa dibuat dari trafo komponen dalam bekas lampu PLC (lampu PL China) yang sudah mati.  Trafo feritnya dicabut, dibuang gulungan aslinya dan digulung ulang sesuai keterangan gambar.
Gulunglah dengan kawat email 0,25mm (kurang atau lebih) dari A ke B sebanyak 40 lilitan, lalu juntaikan sedikit kawat emailnya, inilah titik sambungan B.  Dari kawat ini sambungkan dengan kawat email yang lebih kecil (dipilin dan disolder hingga tersambung) bisa dengan kawat bekas aslinya jika masih bagus, lalu gulung dengan arah yang sama dengan gulungan sebelumnya sebanyak 19 lilitan, juntaikan dan inilah titik sambungan C.
Lanjutkan dengan menggulung dengan arah yang sama sebanyak 95 lilitan dan buat titik sambungan D. Lanjutkan sebanyak 12 lilitan dan buatlah titik sambungan terakhir, yaitu D.

Transistor T1 harus diberi keping pendingin yang cukup, karena dilalui arus cukup besar untuk ukurannya (sekitar 1 Ampere).


Tulisan lain sehubungan dengan lampu neon :
Lampu Neon


( Sandi Sb )


Enter your email address to get update from Sandi Sb.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

2 komentar

Sangat bermanfaat gan ,,, terus berkarya :-)

Balas

Terima kasih atas support-nya ya.

Balas

Silakan komentar sesuai topik dan sertakan ID yang jelas dengan tidak menyertakan live-link atau spam.

Copyright © 2013. Sandi Elektronik - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger