logo blog
Blog Sandi Elektronik
Silahkan pastikan untuk melengkapi kunjungan anda dengan melihat : Daftar Isi.
Terima kasih atas kunjungannya dan semoga bermanfaat

Perlukah Memakai AC Stabilizer?

Advertisement

cheap_ac_stabilizer
AC stabilizer adalah alat untuk menyetabilkan tegangan listrik AC guna mengkompensasi turun-naiknya tegangan pada jaringan listrik 220V. AC stabilizer mengeluarkan tegangan 220V yang relatif stabil meskipun tegangan listrik (misalnya) turun hingga 170V, 190V atau 200V (tergantung kemampuan stabilisasi stabilizer yang bersangkutan).
Tegangan listrik turun karena beberapa faktor penyebab, misalnya karena buruknya koneksi instalasi, besar atau panjang kabel yang tidak sesuai dengan keperluan beban, atau karena adanya masalah teknis di gardu-gardu listrik. Dalam keadaan seperti ini, diperlukanlah sebuah AC stabilizer.

Namun sebelum menggunakan sebuah perangkat stabilizer, hendaknya dipastikan, apakah stabilizer itu memang benar-benar diperlukan? Pertanyaan yang perlu dijawab adalah :
1.Sampai seberapa rendahkah tegangan listrik telah turun?
2.Peralatan elektronik apa sajakah yang digunakan?
3.AC stabilizer yang seperti apa yang akan digunakan?

1.Untuk mengetahui sampai seberapa rendah tegangan listrik telah turun, diperlukan pengukuran tegangan AC pada saat tegangan diperkirakan sedang sangat turun. Ukurlah menggunakan AVO-meter posisi ACV 250 dengan mencolokkan kedua ujung tester AVO-meter kepada dua lubang di stop-kontak, lihatlah angka tegangan yang ditunjukkan.
Bagi yang masih awam tentang ini dapat menyimak petunjuk praktisnya dalam : Pengukuran tegangan AC .

2.Beberapa peralatan elektronik sebenarnya “kebal” terhadap penurunan tegangan AC listrik hingga 190-200V. Sebut saja misalnya : TV, Komputer/PC beserta monitornya, printer, DVD player, las listrik sistem SMPS. Sebagian TV system CRT bahkan ada yang masih mampu beroperasi dengan baik meskipun tegangan listrik turun hingga 100V.
Itu semua karena peralatan elektronik tersebut menerapkan sistem SMPS (Switching-Mode Power-Supply) sehingga mempunyai stabilisasi internal yang lebih baik. Karena itu jika tegangan listrik hanya turun hingga 190-200V sebenarnya mereka tidak membutuhkan stabilizer, kecuali jika penurunan tegangan lebih parah dari itu.
Penggunaan stabilizer yang tidak perlu akan memboroskan daya, karena semua stabilizer rata-rata mempunyai efisiensi di bawah 90%. Kebanyakannya hanya 60-75%.
Adapun peralatan elektronik yang cukup dipengaruhi oleh turunnya tegangan listrik adalah semua peralatan AC-motor seperti pompa air, mixer, blender, kulkas, kipas angin, mesin cuci, dan lain-lain. Juga peralatan elektronik berdaya besar yang menerapkan trafo besi pada power-supply nya, seperti audio-amplifier berdaya besar atau DC power-supply.
Penurunan tegangan akan mempengaruhi keoptimalan kerja perangkat-perangkat elektronik itu. Karena itu merekalah yang lebih membutuhkan stabilizer jika tegangan listrik sering turun.

3.Ada beberapa jenis sistem AC stabilizer, di antaranya : Sistem motor-putar, sistem relay, sistem Triac, dan sistem SMPS.
Peralatan elektronik yang menerapkan SMPS seperti TV, komputer/PC, monitor PC, printer, DVD-player cocok saja menggunakan semua jenis stabilizer tersebut.
Tetapi peralatan elektronik AC-motor atau yang menggunakan trafo besi, kurang cocok menggunakan stabilizer sistem Triac dan sistem SMPS. Hal ini karena AC-motor dan trafo besi memerlukan tegangan AC berbentuk sinus murni untuk keoptimalan kerjanya, sedangkan stabilizer sistem Triac dan sistem SMPS tidak mengeluarkan tegangan AC berbentuk sinus murni. Karena itu memilih stabilizer yang akan digunakan menjadi penting juga. Tanyakanlah kepada produsen/penjualnya, apakah sistem stabilizer yang hendak digunakan tersebut.

Selain dari sistemnya, perlu juga diketahui seberapa besar daya keluarannya. Hitunglah terlebih dahulu daya maksimal yang akan digunakan, setelah itu barulah pilih jenis stabilizer yang sesuai dengan keperluan daya tersebut. Kemampuan daya perangkat stabilizer yang kurang memadai akan dapat menyebabkan rusaknya stabilizer tersebut (dimulai dengan sekering putus terus), atau (setidaknya) tidak berefek bagus.
Dalam banyak kasus, pemakaian stabilizer justeru makin memperparah keadaan. Ini biasanya disebabkan karena kemampuan daya perangkat stabilizer tidak memadai, meskipun pada box-nya tertulis sekian VA atau sekian Watt.
Pada AC stabilizer “abal-abal”/murahan sering tercantum tulisan daya yang tidak sesuai dengan kenyataannya.
Bahkan ada stabilizer murahan yang sebenarnya tidak menyetabilkan tegangan sama sekali. Tegangan listrik hanya dibuat “numpang lewat” saja melalui stabilizer tersebut, tetapi pemakai tidak sadar jika yang terjadi sebenarnya seperti itu.
Lebih parah lagi, ada pula stabilizer yang tidak tepat dalam menaikkan tegangan. Penurunan tegangan 200V akan dinaikkan olehnya menjadi 240-250V. Ini akan membuat banyak peralatan elektronik menjadi terancam rusak.

Memang benar apa yang dikatakan orang, kwalitas itu ada harganya.
Tetapi pilihan bijak tetap pada kwalitas, bukan pada harga, karena harga itu kadang relatif...

(Sandi Sb)


Tulisan lain yang berhubungan :
Pengertian AC
Pengukuran tegangan AC .

Enter your email address to get update from Sandi Sb.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Silakan komentar sesuai topik dan sertakan ID yang jelas dengan tidak menyertakan live-link atau spam.

Copyright © 2013. Sandi Elektronik - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger