logo blog
Blog Sandi Elektronik
Silahkan pastikan untuk melengkapi kunjungan anda dengan melihat : Daftar Isi.
Terima kasih atas kunjungannya dan semoga bermanfaat

IC Monolitik Berdaya Besar Pengganti IC Hibrida

Advertisement

IC monolitik awalnya dibuat untuk daya yang kecil-kecil saja. Ketika keperluan untuk penggunaan dengan daya yang besar-besar mulai muncul, orang pun kemudian membuat IC hibrida (Hybride-IC).

Sejak awal era 1980-an hingga awal era 1990-an IC hibrida mendominasi rancangan-rancangan sirkit elektronik berdaya besar seperti power-supply dan power-amplifier.
Perusahaan Sanyo membuat IC hibrida dengan label awal “STK” dan Skiltronik memproduksi dengan label awal “SPH”. Perusahaan-perusahaan yang lain pun juga demikian, mempunyai produk IC hibrida, namun STK dan SPH (terutama STK) jauh lebih populer. STK dan SPH lalu menjadi ciri khas inisial awal sebuah IC hibrida.
Ciri lain dari IC hibrida adalah bentuknya yang besar karena konstruksi rangkaian yang tersusun di dalamnya memang membuatnya menjadi sedemikian.
Beberapa contoh IC hibrida adalah : STK-6712AMK4, STK-405, STK-015, SPH-025, STK-441, dan lain-lain.

Pada perkembangannya, sirkit-sirkit elektronik berdaya besar semakin diusahakan agar dapat terkemas di dalam sebuah kemasan IC monolitik. Hal ini dikarenakan IC monolitik mempunyai pola konstruksi susunan rangkaian yang lebih kompak sehingga membuatnya dapat berbentuk lebih kecil jika dibandingkan dengan IC hibrida. Hal ini berkaitan dengan metode pembuatannya.
Tekhnologi pun semakin berkembang, maka mulai muncullah IC monolitik berdaya besar.

Di bidang power-supply, IC regulator tegangan tunggal dan tegangan variatif, bermunculan seperti LM134, LM140, dan keluarga IC 78xx dan 79xx.
IC regulator tegangan tinggi STR5412 sempat marak digunakan di berbagai power-supply TV.
Ketika system SMPS mulai menjadi trend, IC-IC SMPS monolitik tunggal (single-chip) berdaya besar banyak digunakan menggantikan sistem linear yang semakin ditinggalkan. Sebut saja yang pernah populer : STR54040, STR58041, SMR40000, STRS6707, dan lain-lain.

Di bidang audio, trend penggunaan IC hibrida pun sebenarnya sudah mulai memudar dari sejak akhir era 1980-an. Jika sebelumnya sebuah po-amp berkemampuan 5W saja harus menggunakan sebuah IC hibrida yang berbentuk besar (misalnya STK-405), maka pada kelanjutannya cukuplah dengan IC monolitik yang berukuran lebih kecil seperti TBA810 atau TDA2002.
Bandingkanlah contoh IC hibrida dan IC monolitik berikut ini :

STK015 dan LA4282

Dahulu, untuk membuat amplifier stereo dengan daya maksimal 10W pada beban speaker 8Ω, digunakanlah dua IC OTL STK-015. Tegangan suplai yang dibutuhkan adalah 32V.
Kini, cukup dengan sebuah LA4282 (IC monolitik OTL) sudah didapatkan daya maksimal 2 x 10W pada beban speaker 8Ω, THD 1% pada tegangan suplai 32V. Perhatikanlah perbedaan ukuran fisiknya yang cukup menyolok.

STK025 dan TDA2050

STK-025 dan TDA2050 kedua-duanya adalah IC OCL berkemampuan daya 25W pada beban 8Ω.
STK4121 dan TDA7265 adalah dua IC dual-OCL yang sama-sama mempunyai kemampuan daya 20W pada beban 8Ω, THD 1%.

Apakah IC hibrida memang telah benar-benar ditinggalkan orang?

Ternyata tidak juga.
Beberapa produk IC hibrida baru tetap ada. Hal ini dikarenakan konstruksi IC hibrida lebih dapat menampung komponen-komponen elektronik yang lebih besar seperti kondensator, ferrite-trafo ataupun yang lainnya. Sebagian IC hibrida baru mencakup chip-chip monolitik di dalamnya.


(Sandi Sb)


Tulisan lain terkait IC :
IC
Dunia BTL .

Enter your email address to get update from Sandi Sb.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Silakan komentar sesuai topik dan sertakan ID yang jelas dengan tidak menyertakan live-link atau spam.

Copyright © 2013. Sandi Elektronik - All Rights Reserved | Template Created by Kompi Ajaib Proudly powered by Blogger